Kesehatan

Tak Selamanya Buruk, Radikal Bebas juga Punya Fungsi untuk Tubuh

Istilah radikal bebas pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Banyak sekali sekarang ini produk-produk komersial yang mengklaim bahwa produk tersebut bisa membantu tubuh dari radikal bebas.

Namun sebenarnya, apa itu radikal bebas? Apakah radikal bebas ini berguna atau malah berbahaya bagi tubuh?

Sebelum beralih ke kegunaan dan bahayanya, perlu diketahui dahulu apa yang dimaksud dengan radikal bebas.

Radikal bebas sendiri didefinisikan oleh National Cancer Institute sebagai tipe molekul yang tidak stabil yang dibuat ketika metabolisme sel normal. Atau dengan kata lain bisa disebut dengan perubahan kimia yang terjadi di dalam sel.

Ternyata, radikal bebas ini seperti dua mata pisau karena bisa berguna dan berbahaya bagi tubuh. Berikut uraiannya.

Kegunaan radikal bebas

Menurut penelitian yang dilakukan oleh ahli dari University of Messina, Itali, dan diterbitkan oleh Jurnal Oxidative Medicine and Cellular Longevity pada tahun 2017, ditemukan bahwa radikal bebas tidak selamanya buruk bagi tubuh.

Radikal bebas dikatakan aman ketika jumlahnya dalam tubuh tidak banyak atau sedang, dan bahkan bisa berguna untuk organisme.

Contoh dari kegunaan radikal bebas ini adalah untuk membentuk struktur seluler tertentu di dalam tubuh sehingga bisa membantu sel inang untuk melawan patogen yang menyerang tubuh.

Tidak hanya itu saja, radikal bebas ternyata juga memiliki peran penting untuk mengatur aliran intrasel di beberapa tipe sel.

Molekul yang berfungsi untuk mengatur aliran intrasel tersebut adalah oksida nitrat yang berperan sebagai kurir antar sel sehingga modulasi aliran darah bisa berjalan dengan baik.

Oksida nitrat juga memiliki peran sebagai pelindung inang dari patogen dan sel tumor.

Melansir Healthline, radikal bebas selalu diproduksi di dalam tubuh sehingga akan sangat bahaya jika tidak ada radikal bebas sama sekali di dalam tubuh, bahkan bisa menyebabkan kematian.

Kapan radikal bebas dikatakan berbahaya bagi tubuh?

Radikal bebas akan sangat berguna bagi tubuh ketika ada dalam jumlah sedikit atau sedang. Namun menurut Healthline, ketika jumlah radikal bebas di dalam tubuh lebih banyak daripada antioksidan, maka akan berbahaya.

Keadaan ini dinamakan stres oksidatif dan dalam jangka waktu lama, keadaan ini bisa merusak DNA dan molekul penting dalam tubuh. Terkadang, bisa menyebabkan kematian sel.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh para ahli dari Universitas Hindu Banaras, India yang dimuat pada Journal of Postgraduate Medicine pada tahun 2016 menunjukkan bahwa jumlah antioksidan yang lebih sedikit dari radikal bebas menjadi penyebab utama terbentuknya kanker kepala dan leher.

Stres oksidatif juga berperan penting dalam proses penuaan.

Hal ini diteliti oleh para ahli dari Roma, Itali, yang terbit pada Jurnal Clinical Interventions in Aging pada tahun 2018.

Penelitian ini menunjukkan bahwa terapi antioksidan yang dibarengi dengan olahraga aerobik bisa secara positif memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh stres oksidatif.

Pada hasil penelitian tersebut, ditemukan bahwa jumlah perlindungan antioksidan bertambah sehingga secara positif mempengaruhi keseimbangan oksidatif atau antioksidan di dalam tubuh.

Healthline juga menambahkan bahwa ada beberapa sumber yang menaikkan level radikal bebas dalam tubuh, seperti:

  • Polusi udara
  • Asap rokok
  • Konsumsi alcohol
  • Racun
  • Jumlah gula dalam darah tinggi
  • Konsumsi asam lemak tak jenuh ganda berlebihan
  • Radiasi
  • Infeksi bakteri, jamur, atau virus
  • Konsumsi zat besi, magnesium, copper, dan zinc
  • Jumlah oksigen yang terlalu banyak atau terlalu sedikit
  • Olahraga yang terlalu intens dan lama
  • Konsumsi antioksidan yang berlebihan
  • Kekurangan antioksidan

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *